• Belajar
  • >
  • Lebih dari sekadar irie
Lebih dari sekadar irie
Lebih dari sekadar irie

Jul 01 2022

Lebih dari sekadar irie

Penasihat di Jamaika seperti Carla Osherla Ashley-Grant, LUTCF, MFA, Selena Toinelle Chin-Coffie, dan Jeffrey David Jarrett mendidik dan melindungi populasi yang kurang terlayani.

Oleh Elizabeth Diffin

Topik bahasan

Ada satu hal yang terkenal dari Jamaika... Oke, selain pantai biru, musik Bob Marley, dan manusia tercepat di dunia, negara ini terkenal karena gaya hidup penduduknya yang santai dan los. Ada alasan kata irie – yang kurang lebih artinya “semua baik-baik saja” – jadi salah satu kata terpopuler di negara pulau ini.

Meski demikian, di bidang jasa keuangan, penasihat Jamaika mengambil sikap yang jauh dari leha-leha. Setelah periode krisis pada pertengahan 1990-an, Jamaika mendirikan Komisi Jasa Keuangan (FSC) untuk mengawasi industri asuransi dan sektor perbankan. FSC lantas mencetuskan inisiatif untuk meningkatkan literasi finansial di antara penduduk Jamaika, khususnya 50% penduduk yang hidup di wilayah pedesaan.

Salah satunya Jeffrey David Jarrett, anggota enam tahun MDRT dari Kingston.

“Tumbuh besar sebagai anak desa di Jamaika, saya asing dengan konsep asuransi jiwa dan konsep sesungguhnya dari kemerdekaan finansial,” kata Jarrett. Ia pertama kali mengetahuinya saat temannya membeli rencana asuransi jiwa Jamaika. Awalnya, Jarrett sulit memahami konsep itu. Tapi akhirnya, inilah yang membuatnya memilih karier yang dapat menyalurkan semangatnya untuk membantu masyarakat yang nihil literasi finansial, seperti dirinya.

“Penting bagi kita untuk memiliki nasabah yang tidak hanya jujur, tetapi juga terdidik,” katanya. “Jika hubungan sudah terjalin, saya dengan leluasa dapat memberikan literasi finansial kepada yang membutuhkan.”

Jarrett mengamati adanya stigma warga setempat terhadap profesi ini. Karena itu, penasihat harus membuktikan kalau anggapan “agen hanyalah tukang tipu” itu keliru. FSC juga aktif mengatasi kesalahpahaman ini dengan meluncurkan regulasi baru, seperti regulasi yang mewajibkan proses fact finding, yang berlaku pada kuartal kedua 2022. Aturan ini membuat formulir informasi nasabah makin tebal karena segmen riwayat kesehatan dan risikonya kian detail. Dipadukan dengan munculnya inovasi InsurTech, aturan ini memudahkan distribusi informasi nasabah di kalangan praktisi profesional sehingga layanannya pun lebih kaya informasi dan holistik.

“Edukasi nasabah baru pun makin meyakinkan,” kata Jarrett. “Sejauh ini, umpan baliknya sangat positif.”

Perusahaan asuransi juga berupaya mengembangkan penawaran produk baru untuk segmen masyarakat yang secara historis kurang terlayani. Awalnya, hanya 19% populasi saja yang memiliki asuransi kesehatan pribadi. Sekarang, telah diluncurkan polis-polis baru yang peruntukannya khusus pekerja industri perhotelan (pariwisata merupakan penyumbang utama GDP Jamaika) dan industri pertanian, serta polis untuk kalangan lansia dan mahasiswa.

Selena Tonielle Chin-Coffie, anggota 11 tahun MDRT dari Kingston, juga melihat popularitas polis asuransi penyakit kritis baru untuk anak usia 3 bulan hingga 15 tahun. Polis yang sudah diseleksi ini menyediakan manfaat penyakit kritis untuk masalah kesehatan serius, seperti asma, strok, diabetes Tipe 1, distrofi otot, serta manfaat rawat inap dan manfaat kematian terbatas. Salah satu manfaat polis ini adalah pengalihan ke polis penyakit kritis lain saat anak sudah dewasa.

“Pengaruhnya positif terhadap bisnis saya. Banyak orang tua memanfaatkan penawaran ini,” katanya. “Saya pastikan nasabah yang punya anak dalam rentang usia tersebut mengetahui adanya penawaran ini dan bisa memutuskan sendiri apakah mereka mau menggunakannya.”

Menurut Carla Osherla Ashley-Grant, LUTCF, MFA, anggota 19 tahun MDRT dari Kingston, produk-produk baru ini menunjukkan potensi profesi ini di Jamaika.

“Selalu ada pertumbuhan pada segmen populasi yang kurang terlayani,” katanya. “Ada bagian pasar yang belum terjamah, dan kita harus strategis untuk bisa memasukinya.”

Ashley-Grant juga menyebutkan bahwa, belakangan, konsumen lebih memilih produk-produk yang berkaitan dengan investasi daripada asuransi jiwa seumur hidup. Selain itu, polis-polis yang tidak memerlukan underwriting juga lebih disukai. Sayangnya, jenis polis seperti ini mengurangi komisi dan sering kali tidak bisa dikonversi ke polis lain.

Selama bertahun-tahun, sebagian cukup besar populasi Jamaika — sekitar 20% — hidup di atau di bawah garis kemiskinan. Setelah pertumbuhan signifikan pada 2018, angka itu turun menjadi 12,8%. Namun, pandemi kembali menimbulkan masalah ekonomi. Tapi bagi para penasihat, pandemi tidak membawa masalah sebesar yang mereka duga.

Ashley-Grant memusatkan aktivitas memprospek pada industri dan individu yang pendapatannya stabil, terlepas dari fluktuasi ekonomi. Ia juga menggunakan naik turunnya ekonomi sebagai momen untuk menggiatkan prospecting.

“Saya bisa menggunakan situasi ekonomi terkini untuk menyediakan solusi asuransi bagi nasabah,” katanya. “Saya sadar bahwa, saat ekonomi turun, orang cenderung membeli lebih banyak asuransi jiwa.”

Jarrett mengaku tujuannya tak hanya menjual asuransi. Ia juga ingin membangkitkan keinginan nasabah untuk meningkatkan kualitas hidup lewat rencana tambahan, seperti penyakit kritis, dan menyediakan layanan investasi.

“Jamaika seperti dibangunkan oleh alarm. Dan pandemi adalah pecut yang kami butuhkan,” katanya. “Bukan rahasia bahwa banyak warga tidak puas dengan ekonomi Jamaika. Dan untuk bisa hidup layak saja pun orang harus punya penghasilan pasif.”

Meski beberapa dekade terakhir cukup bergejolak, Chin-Coffie mengatakan asuransi dan jasa keuangan terus berkontribusi signifikan bagi ekonomi Jamaika — dan akhirnya, bagi kehidupan warga negaranya.

“Layanan yang disediakan di sektor finansial teramat penting untuk kelangsungan hidup rakyat kami,” katanya. “Itulah yang akhirnya membantu kami membangun negara yang lebih baik nanti.”

Kontak

Carla Ashley-Grant carla-ashley@live.com

Selena Chin-Coffie selena_chin@sagicor.com

Jeffrey Jarrett jeffrey_jarrett@sagicor.com