Log in to access resources reserved for MDRT members.
  • Belajar
  • >
  • Promotor kesadaran dini dan pendampingan
Promotor kesadaran dini dan pendampingan
Promotor kesadaran dini dan pendampingan

Nov 01 2023 / Round the Table Magazine

Promotor kesadaran dini dan pendampingan

Komunitas deteksi dan pendampingan kanker payudara terima hibah Yayasan MDRT.

Topik bahasan

Tahun 2000, di usianya yang 30an awal, kanker payudara menghampiri Tuty Effendy. Meski dikuatkan oleh kerabat serta sahabat, tanpa teman senasib, Effendy, anggota satu tahun MDRT dari Jakarta, Indonesia, merasa seperti berjuang sendiri.

Itulah mengapa, setelah bertemu salah satu pendiri Lovepink, Effendy pun bergiat di organisasi ini, yang telah menyuarakan pentingnya deteksi dini kanker payudara dan mendampingi para penyintas sejak 2014 dan, tahun ini, menerima hibah global Yayasan MDRT sebesar $10.000. “Saat itu saya berjanji pada diri sendiri, jika Tuhan menyembuhkan, saya ingin berbagi pengalaman dan karunia itu dengan siapa pun yang tengah dan pernah mengalaminya,” ujar Effendy, yang menuntaskan terapi kankernya pada Mei 2001. “Melalui Lovepink, rasanya semua mimpi saya jadi nyata.”

Effendy sendiri baru mengetahui tentang deteksi dini setelah menerima selembar brosur Bulan Kesadaran Kanker Payudara ketika berada di Singapura untuk menjalani operasi mastektomi pada Oktober 2000. Dalam satu dekade terakhir, Effendy melihat para perempuan di Indonesia menolak penanganan medis dan kemoterapi setelah didiagnosis karena takut dioperasi, yang membuat kanker justru menyebar.

Jika dahulu ia mendapatkan pendampingan yang diberikannya sekarang, kata Effendy, mestilah ia merasakan hal yang dialami warga dampingan Lovepink: “Awalnya mereka takut,” katanya, secara khusus mengingat seorang wanita yang enggan menjalani kemoterapi atau dioperasi, “tapi setelah didampingi oleh Lovepink dan mendengar kesaksian saya sebagai penyintas, mereka punya harapan.”

Bermula dari yang kecil

Sepuluh tahun lalu, bahkan sebelum Lovepink resmi terdaftar sebagai yayasan, Effendy mengelola grup BBM berisi 50 orang dan berperan sebagai panutan untuk mereka yang baru didiagnosis. Kini, ia ikut di banyak grup WhatsApp Lovepink, yang dibagi ke dalam grup-grup berisi 200-300 orang. Ada grup Warrior, untuk mereka yang masih menjalani pengobatan kanker payudara. Ada pula grup Survivor, untuk mereka yang sudah menyelesaikan perawatan. Effendy — yang menjabat sekretaris lembaga ini dari 2014 hingga 2019 dan mengelola proses administratif serta koordinasi pihak ketiga seperti donatur dan lembaga kesehatan, dan menjadi pembicara pada 2019 — aktif di kedua grup tersebut, menjawab pertanyaan dan berbagi pengalaman terkait perawatan, efek samping, dll.

Para peserta di Lovepink kerap mendengar tentang organisasi ini dari orang sekitar, baik teman, keluarga, atau bahkan penyintas lain yang ditemui saat terapi. Karena Effendy tinggal di salah satu rumah sakit kanker terbesar di Jakarta, ia sering menjadi orang yang menjenguk penyintas yang baru dirawat inap. Bila ada yang tinggal sendiri dan tidak punya teman untuk pergi periksa, Effendy turun menemani. Memberikan dukungan moral adalah salah satu misi utama Lovepink, selain misi mengurangi angka kanker payudara stadium lanjut pada 2030 melalui edukasi deteksi dini dengan pemeriksaan mandiri dan USG.

Melebarkan jangkauan

Tentu, Lovepink ingin menggalakkan misinya sehingga mampu menjangkau lebih banyak perempuan Indonesia. Untuk tujuan itu, hibah Yayasan MDRT akan mendukung program Lovepink: layanan USG payudara gratis untuk warga dengan keterbatasan finansial. Bekerja sama dengan rumah sakit di berbagai kota di Indonesia, target program ini adalah menjangkau 10.000 perempuan. Sekitar 2.500 orang telah menerima layanan ini pada 2022. Upaya ini adalah perpanjangan dari program Pink Van, kegiatan skrining payudara keliling yang didukung para relawan spesialis radiologi, dengan alat USG mobile, untuk menjangkau warga masyarakat.

Saat Effendy membantu melatih para anggota Lovepink yang ingin menjadi relawan (mayoritas besar anggota pengurus dan relawan lembaga ini adalah para penyintas), mereka dilatih untuk menyosialisasikan pentingnya deteksi dini dan membantu para dokter yang melakukan pemeriksaan USG untuk 15 hingga 50 orang per hari di tiap area kerja.

Sepanjang tahun, Effendy dan semua aktivis Pink Squad Lovepink berjuang menyebarkan pesan dan layanan mereka. Termasuk misalnya, aktivitas yang baru-baru ini digelar di Bogor, Indonesia, di mana 100 perempuan menerima layanan USG tiap hari selama lima hari berturut-turut. Dan pada Bulan Kesadaran Kanker Payudara tiap Oktober, Lovepink menyelenggarakan aksi amal jalan santai dengan nama Jakarta Goes Pink, beserta aneka kegiatan sosialisasi deteksi dini lainnya.

“Saya bukti hidup bahwa kanker payudara bukanlah akhir dunia,” kata Effendy. “Dengan semangat kuat dan perawatan yang baik, Anda bisa sembuh.”

Kontak

Tuty Effendy tuty.effendy@gmail.com